SESATKAH JAMAAH TABLIGH ? BAG. 4 : DAKWAH SAMA ORANG ISLAM SAJA ?



Mereka berkata,"Tidak sepatutnya Berdakwah Kepada Sesama Muslim. Mengapa
Jamaah Tabligh Tidak Mendakwahi Mereka Orang-orang Kafir, Agar Memeluk Islam ?”

Ungkapan di atas secara tidak langsung telah menzhalimi keagungan dakwah dan Amar Ma’ ruf nahi mungkar. Mereka telah menyembelih keagungannya dengan menganggap bahwa dakwah hanyalah untuk orang-orang kafir, dan kaum muslimin tidak berhak atas dakwah. Padahal dakwah itu luas. Allah sendiri berdakwah kepada manusia. Allah berfirman,        
"Dan Allah mengajak ke surga.”
"Dan Allah mengajak untuk menuju ke (surga) Darussalam.”

       Semua firman Allah adalah dakwah kepada orang-orang beriman. Allah pun menyeru orang-orang beriman agar memperjuangkan keimanannya, padahal mereka sudah beriman. Seperti firman Allah; "Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian…”  "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah….”
"hai orang –orang yang beriman taatlah…”dan berbagai ayat lainnya.

Berulang-ulang orang beriman diseru dengan kalimat; 'wahai orang-orang beriman…! Dengan demikian, bukan sesuatu yang salah, jika mendakwahkan keimanan kepada sesama orang beriman.

 Kewajiban Saling Menasehati Sesama Muslim
       Jika Allah sendiri telah mendakwahi orang-orang beriman, maka apakah tercela jika seorang mukmin mendakwahi dan mengingatkan mukmin lainnya mengenai keimanan dan ketaatan?        Sesungguhnya Allah telah menekankan kepentingan dakwah dan beramar ma’ruf  nahi mungkar kepada sesama mukmin .
Allah berfirman,"Dan berikanlah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat.”
"Dan berilah peringatan. Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang beriman.”
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu sungguh dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman, dan beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan yang saling menasehati dalam kesabaran.”

“orang-orang yang beriman lelaki yang dan orang-orang yang beriman perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mentaati allah serta Rasul-Nya.”
“Sebagian pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” Dan masih banyak lagi ayat-ayat sejenis, yang menunjukkan secara jelas bahwa orang beriman pun diperintah untuk saling menasehati, karena sesungguhnya orang beriman pun memerlukan ajakan kepada keimanan dan ketaatan.

Diperkuat juga oleh hadits-hadits Nabi saw., yaitu;
Anas bin Malik ra.meriwayatkan,"Apabila Abdullah bin Rawahah bertemu dengan seseorang diantara sahabat ra., ia berkata, “kemarilah, kita beriman kepada Allah sesaat.” Maka berkatalah suatu hari ia seperti demikian kepada seorang, dan orang itu marah, sehingga dating kepada Nabi saw., dan berkata,"Ya Rasulullah,bagaimanakah ini Ibnu Rawahah, ia menawarkan keimanan kepadamu dengan keimanan sesaat?”

Maka bersabda Nabi saw., "Semoga Allah merahmati Ibnu Rawahah, sesungguhnya ia menyukai majelis-majelis yang para malaikat berbangga-bangga denganya.”
Dalam riwayat Baihaqi disebutkan,"….orang itu berkata ,"Apakah kita bukan orang beriman?” Ibnu Rawahah berkata,"Benar, namun mari kita mengingat allah sehingga menambah keimanan kita.”

       Imam Nawawi rah.a. berkata mengenai maksud 'beriman sesaat…; Mari Kita bermudzakarah mengenai kebaikan-kebaikan, hokum-hukum akherat dan urusan-urusan agama, sesungguhnya hal itu disebut iman.”
       Dari Abu dzar ra., “Umar ra. suka memegang tangan seseorang atau dua orang dari kalangan sahabatra., lalu berkata," Mari bersama kami meningkatkan keimanan.”
       Aswad bin Hilal berkata, “kami berjalan bersama Muadz ra.,maka ia berkata kepada kami,"duduklah bersama kami untuk beriman sejenak.”

       Umar ra.  berkata," aku tinggal di Kampung Bani Ummayah bin Zaid di sekita Madinah bersama tetangga orang Anshar. Dan kami bergiliran untuk turun menemui Nabi saw..sehari dia turun, dan giliran sehari aku turun. Apabila giliranku turun, maka aku akan mendatangi dengan membawa kabar pada hari itu mengenai hokum-hukum  agama.Dan apabila giliran dia turun, maka ia pun akan melakukan sepertiku.”

       Dari Anas ra., Rasulullah saw. Bersabda," tolonglah saudaramu yang zhalim dan yang dizhalimi,” Seseorang bertanya,"Ya Rasulullah tentu aku akan menolong orang yang dizhalimi, lalu bagaiman aku menolong orang yang zhalim?” beliau bersabda, "Cegahlah ia dari berbuat zhalim, maka itu berarti kamu menyelamatkan saudaramu.” Jarir bin Abdullah ra. berkata,"aku telah berbait dengan rasulullah saw. untuk mendirikan shalat, memberikan zakat dan menasehati muslim.”        Dari Tamim Ad-Dari ra., bahwa Nabi saw.bersabda," Agama itu nasehat.”kami berkata," bagi siapa, ya Rasulullah?” beliau bersabda," Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul- Nya, bagi para pemimpin umat Islam, dan bagi masyarakat umumnya.”

       Semua hadits-hadits diatas, menjelaskan di antara hak sesama orang beriman adalah saling menasehati dan saling mengingatkan dalam urusan ketaatan dan kebaikkan. Dengan demikian, tidak salah jika jamaah Tabligh bergerak diantara orang-orang beriman untuk saling meningkatkan keimanan dan keshalehan. Bahkan dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa saling menasehati dan mengajak kebaikan adalah kewajiban sesama muslim.

       Sayyid Abul Hasan Ali An- Nadwi berkata,"Untuk saat ini umat islam sangat memerlukan sesuatu yang dapat menumbuhkan perasaan berhajat dan perasaan memerlukan terhadap kepentingan agama. Diperlukan gairah menyampaikan, yaitu bagaiman seorang muslim merasa peduli bagaimana menjadikan dirinya sebagai muslim yang sebenarnya. Hal ini tidak akan dapat terwujud tanpa adanya pengarahan untuk berkorban demi agama. Apabila perasaan ini telah tumbuh pada diri kaum muslimin, maka tahapan-tahapan selanjutnya akan menjadi lebih mudah.”

       Umat Islam Adalah Teladan Bagi Umat  Lainnya
       Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang dicontoh dan ditiru oleh umat yang lainnya. Allah berfirman,
“Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
“kalian adalah sebaik-baik umat, yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan beriman kepada Allah.”
Dengan demikian, menyiapkan dan meningkatkan kualitas umat ini untuk menjadi umat yang terbaik adalah usaha yang lebih di dahuluhkan dari pada mengajak umat lain kepada Islam.

       Sayyid Sulaiman An-Nadwi menulis,'Diantara maraknya pergerakan-pergerakan agama di India,usaha dakwahdan tabligh ini adalah usaha yang paling mendekati usaha yang telah di lakukan pada masa kurun awal. Dimana usaha dakwah dan tabligh,amar ma’ruf nahi mungkar, adalah tulang punggung Islam. Padanya sangat bergantung asas Islam, kekuatan Islam, keluasan Islam dan kejayaan Islam dapat terwujud. Dan inilah yang diperlukan oleh umat di seluruh dunia. Menjadikan seorang muslim itu muslim yang sebenarnya lebih penting dari pada menjadikan orang yang non muslim kepada muslim. Sesuatu yang lebih penting untuk merubah dari sekedar nama Islam kepada kehidupan Islam. Merubah dari muslim perkauman, menjadi muslim yang beragama. Perhatikan alquran yang telah menyeru, “hai orang-orang yang beriman, berimanlah ..”Inilah yang semestinya hari ini didengungkan dan digaungkan ke seluruh pelosok.Dari kota ke kota,dari kampung ke kampung dari gang-gang.dan yang hanya mampu melaksanakan hal ini adalah orang-orang yang merelakan waktunya, hartanya, dirinya dan segala kesenangan duniawinya,rela menghadapi segala kesusahan dan rintangan dalam mendakwahhkan agama.”

       Atas maksud tersebut,sangat diperlukan gerakan kaum  muslimin di tengah kaum muslimin sendiri untuk meningkatkan keimanan dan keshalehan.
       Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadwi berkata, “Dengan usaha syaikh Ilyas ini, yaitu seseorang keluar dari rumahnya untuk belajar agama, hal itu sangat bermanfaat bagi dirinya dan diri muslim lainnya. Akan muncul suatu suasana amal dan dakwah di tengah kesibukan mereka dalam pekerjaan dan rumah tangga mereka.”

       Dengan kembalinya kaum muslimin kepada keimanan dan ketakwaan yang benar, hal itu menjadi dakwah bila hal kepada orang-orang non muslim yangpada hari ini hidayah mereka masih terhalang oleh perbuatan kaum muslimin sendiri yang melanggar ajaran Islam.

       Pengiriman Jamaah Dakwah kepada Sesama Muslim
       Pengiriman jamaah dakwah kepada sesama muslim agama, bukanlah belum atau yang diada-adakan oleh Jamaah Tabligh. Sebelumnya , telah banyak jamaah-jamaah dikirimkan oleh Rasulullah saw. Dan para sahabat ra.untuk penyebaran dan penegakkan agama.

       Seseorang bertanya kepada Mufti Darul Ulum Deoband-mufti Mahmud Hasan Ganggohi --;'Mengapa Jamaah Tabligh mendatangi sesama kaum muslimin padahal pada zaman Rasulullah saw. yang didatangi adalah orang-orang kafir? Adakah ketentuan hadist bahwa rasulullah saw. menjumpai orang-orang muslim sebagaimana yang dilakukan dalam tabligh?
       Mufti menjawab, “Pentablighan para sahabat kepada orang-orang di kufahdan orang-orang muslim di Qorqoisa dapat anda lihat dalam kitab Fathul qodir jilid pertama. Umar ra.pernah mengirim Ma’qalbin Yasar, Abdullah bin Mughofal, dan yang lainnya dalam jumlah menuju ke Syam. Jamaah ini pergi untuk menjumpai kaum muslimin di sana.”
       Syaik Muhammad Zakariyya menulis di dalam bukunya ketika dikatakan kepadanya bahwa cara tabligh ini tidak pernah ada pada zaman ralulullah saw.. Tidak pernah kaum  muslimin dikirim untuk menjumpai sesama kaum muslimin. Oleh karenaitu, hal ini (Khuruj Fii Sabilillah ) adalah bid’ah.
       Beliau menjawab, “mengenai hal ini, syaikh Muhammad Yusuf di dalam kitabnya Hayatus sahabat menulis puluhan kisah, bahwa nabi saw. Pernah mengirimkan jamaah – jamaah kepada sesama muslim. Masalah ini tertulidalam satu bab, yaitu  ‘Bab  Pengiriman   Sahabat  Beberapa  Negeri   untuk Mengajarkan Agama’.Rincian mengenai riwayat –riwayat tersebut,adalah sebagaiman yang akan dipaparkan di bawah ini ;

       Urwah bin Zubair menyatakan bahwa sebagian kaum Anshar telah berimaan kepada rasulullah saw., dan mereka telah membawa kebaikan bagi seluruh penduduk Madinah. Pada musim haji tahun berikutnya kaum Anshar Madinah mengirim untuk meminta agar dikirim seorang da’I yang dapat mengajar dalam mendalami Alquran. Dengan adanya orang seperti, maka akan memudahkan sesorang masuk Islam. Rasulullah saw. pun mengutus Mus’ab bin Umair ra.. dan di Madinah beliau tinggal di rumah As’ad bi Zurarrah. Selama di sana, mus’ab selalu mengajak orang-orang masuk Islam dan Alquran di ajarkan kepada mereka (yang sudah masuk Islam) sehinggah tidak satu rumah pun di kota Madinah yang tidak masuk Islam. Dan termasuk tooko terpandang di kota itu yaitu masuk Islamnya Amir bin Jamuh, maka ia menghancurkan berhalanya, kemudian Mus’ab bin Umair kembali ketempat Rasulullah saw. Dan mus’ab bin Umair diberi julukan muqri, yaitu seseorang yang pandai dalam membaca Alquran.
       
Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Abdu Qais ra. Datan gbersama rombongan ke tempat Rasulullah saw.. Beliau bersabda kepada mereka, “Aku perin tah kepadamu empat hal, dan jauhilah empat hal, yaitu : Berimanlah kepada Allah dengan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menginfakkan 1/5 bagian harta rampasan. Dan aku melarangmu dari empat hal :Jauhilah meminum minuman keras, baik dari perasaan anggur, gandum, kurma, atau thalis – dan ada tambahan—beliau berkata, “Ingatlah hal itu dan kamu sapmai kepada orang – orang  yang tidak ikut.”

       Dari Ashim Umar ra., bahwa ada beberapa orang dari Kabilah Adhaldan Qoroh datang kepada Rasulullah saw..mereka berkata, “di kampong kami ada beberapa orang sudah masuk Islam. Kirimkanlah bersama kami diantara sahabat-sahabatmu untuk membacakan kepada kami Alquran dan memahamkan Islam kepada kami. “Kemudian rasulullah saaw,mengirimkan jamaah yang terdiri dari empat orang.”  

       Dari Anas ra., bahwa Abu Ubaidah ra. dikirim untuk memahamkan sunnah dan Islam kepada umat Islam di sana.
       Dari Abu Musa Al – Asy’ri  ra.,  bahwa  Rasulullah  saw.  Mengirimkan Muadz bin Jabal dan abu musa Al –asy’ari ke Yaman untuk mengajarkan agama kepada orang –orang Islam di sana.

       Amr bin Yasir ra. Berkata, “rasulullah saw mengirimku ke Kabilah Qois untuk mengajarkan syariat Islam. Ternyata di sana, kujumpai mereka laksana unta-unta yang buas. Mereka tidak memiliki kepedulian kecuali mengenai kambing dan unta. Aku pun kembali menjumpai rasulullah saw..beliau bersabda, “Hai Amr apa yang kamu lakukan ?!” Kuceritakan kepada beliau keadaan kaum tersebut dan kelalaiannya. Beliau bersabda, “ hai Amar, maukah kuberitahukan yang lebih aneh  kepada mereka? Yaitu kaum yang mengetahui Agama namun mereka lebih melalaikannya.”

Dan masih banyak lagi kisah – kisah seperti ini yang tertulis di dalam  kitab-kitab sejarah para sahabat. Jelaslah bahwa telah dikirikkan jamaah – jamaah kepada kaum kuffar untuk Hidayah ke atas mereka, dan juga telah dikirimkan jamaah – jamaah kepada kaum – kaum muslimin untuk mengingatkan kepada Agama.

       Berdakwa Ke Non – Muslim        

       Allah berfirman, “Tidak ada paksaan dalam agama.”:
       Dari Ibnu Abbas ra., Ada seorang wanita yang selalu kematian anaknya. Lalu dia bernazar, jika anaknyahidup, dia akan membuatnya beraga Yahudi. Setelah Yahudi bani Nadhir diusir (dari Madinah ), ditengah mereka ada anak – anak Anshar mereka berkata, “kami tidak akan biarkan anak –anak kami,” Maka Allah menurunkan ayat ; “Tidak ada paksaan dalam Agama…”

       Syaikh Zakariyyah rah.a. berkata, “Ayat ; tidak ada paksaan pada agama..’ itu adalah hak orang kafir. Mereka tidak bias dipaksa dengan pedang untuk beriman. Berbeda terhadap orang – orang muslim. Rasulullah saw. Bersabda, “Barang  siapa melihat kemungkaran ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak sanggup, maka  ubahlah dengan lisannya. Apabila tidak sanggup ubahlah dengan hatinya.  Dan  hal  itulah   selemah – lemah  iman.”

Allah berfirman, “Maka apakah engkau hendak memaksa manusia sehingga mereka itu semua menjadi beriman?”
Buya HAMKA menulis, “ kewajiban Rasul bukanlah memaksa, melainkanmenyampaikan, memberi dakwah, menerangkan bahaya yang mengancam bagi orang yang tidak mau percaya dan memberikan kabar gembira kepada siapa yang beriman. Paksaan hanya akan menimbukan banyak korban, namun tidak menunjukkankebijaksanaan.”

       Syaik Aiman Abu Syadzi menyatakan, “dakwah untuk Islam kepada umat lain kepada kebajikan tidak menuntut setiap orang  untuk melakukannya, walaupun dakwah itu merupakan kewajibanya. Hal ini disebabkan setiap orang tidak memiliki memampuan untuk itu, sebagaiman  kewajiban  haji,  sebagai  fardhu’ain,  tetapi  dilaksanakan bagi yang mampu.”

       Ketika para sahabat ra. telah menerapkan islam dalam kehidupan mereka secara sempurna, maka orang –orang non muslim yang melihat kehidupan sahabat ra., dengan sendirinya hidayah pun menghampiri mereka. Dan tanpa paksaan, mereka berbondong-bondong masuk ke dalam Islam.

       Diriwayatkan dari Utsman bin Abil Ash ra.,bahwa kaum Tsaqif dating pada masa Rasulullah saw. Dan mereka ditempatkan di dalam masjid agar tersentuh hati mereka. Melihat gaya hidup para sahabat ra..
       Dari Athiyyah bin Sufyan ra., telah datang orang –orang Tsaqif kepada Rasulullah saw. Pada bulan Ramadhan. Mereka ditempatkan di salah satu kubah di dalam masjid. Begitu nasuk Islam, mereka pun turut berpuasa bersama Rasulullah saw..

       Dari Abu Hurairah ra.,rasulullah saw. pernah mengutus sepasukan berkuda ke arah Najed. kemudian mereka membawa seorang tawanan dari Bani Hanifayah bernama Tsumamah bin Utsal—pemimpin penduduk Yamamah – lalu para sahabat mengikatnya di sebuah tiang masjid. Selanjutnya Rasulullah saw. Mendatanginya dan bertanya, “Apa kabarmu, hai Tsumamah ?” jawabnya, “Aku baik-baik saja,hai Muhammad. Jika engkau membunuhku, maka engkau menumpahkan darah. Jika engkau memberi kesenangan (membebaskannya), maka engkau memberi kesenangan kepada orang yang pandai bersyukur. Dan jika engkau menginginkan harta, mintahlah, pasti engkau akan diberi sesukamu.” Maka rasulullah saw. Membiarkannya. Keesokan harinya, beliau bertanya, “Apa kabar, hai Tsumamah?” Tsumamah mengulangi lagi jawabannya seperti kemarin. Setelah itu dibiarkan lagi oleh beliau saw..keesokan harinya lagi, beliau memeriksanya kembali, lalu beliau bersabda, “Lepaskanlah Tsumamah!” Tsumamah pun pergi ke sebuah kebun di dekat masjid. Disana ia mandi, lalu memasuki masjid, dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan – Nya.”

       Demikianlah kesibukan Jamaah Tabligh. Mereka bergerak saling mengingatkan kaum muslimin untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan mereka kepada Allah. Dan ketika hal itu terjadi, maka akan menjadi sebab hidayah bagi umat non muslim.

       Di sini saya sertakan salah satu kejadian yang sangat mendukung pernyataan di atas. Yaitu pada Ijtima’ di Shelfeid Inggeris pada bulan Juli 1973.
Hafizh Muhammad Patel menceritakan hal ini dalam tulisannya berikut ini ;
       “Ijtima itu di hadiri oleh 10.000 orang dari 28 negara selama tiga hari berturut. 500 orang tamu dari Saudi Arabia, Amerika, Jerman, Brazil, Kenya, Prancis, Norwegia dan sebagainya ikut hadir. Pada hari terakhir, dari ijtima’ itu dikeluarkan 45 jamaah keluar Inggeris. Sedangkan sebelum sebelum ijtima’ itu telah bergerak di sekitar Inggeris kurang lebih 500 orang. Dan 500 orang lagi di dalam inggeris setelah ijtima’.

       Peristiwa ijtima; itu sendiri adalah sesuatu yang menakjubkan. Banyak orang–orang bule ataupun negro non muslim yang tersentuh dengan  pemandangan ijtima’ yang mereka saksikan. Bahkan anggota –anggota kepolisian Inggeris yang menjaga dan mengawasi ijtima’ berkata, “Sungguh inilah agama yang benar !tidak pernah kulihat perkumpulan ribuan orang yang demikian tenang dan tertib. Tidak ada pencurian, tidak ada perkelahian, tidak ada keributan sedikit pun, bahkan satu sama lainnya saling menghormati dan mendahulukan orang lain. Tidak ada ketidaktertiban sama sekali.” Dan dari awal perkkumpulan itu saja 15 orang langsung masuk Islam. Kesemua muallaf itu langsung turut serta khuruj empat bulan di jalan Allah. Dan dari kawasan – kawasan yang mereka datangi berbondong – bondong  orang masuk Islam.”
   
    Banyak diantara mereka ada yang berkata, “Sudah berbulan kota kami diliputi salju dan hujan. Namun sungguh ajaib selama tiga hari itu dan lima belas hari setelahnya, tidak ada setetes hujan pun yang turun. Dan langit demikian cerah. Sungguh adalah karena kebaikan orang – orang ini.”

Ada juga seorang jurnalis Nasrani yang sangat terkenal. Ia berkata, “Saya sudah meliputi tiga puluh tujuh konferensi Islam di berbagai negara di selurauh dunia, tetapi justru saya dapatkan konferensi Islam yang sungguh – sungguh islami itu sendiri.” Akhirnya ia tertarik dengan Islam dan memeluk Islam.

           Ada beberapa pendeta yang pada kesempatan itu ikut hadir dalam ijtima’ tersebut. Ia sangat tersentuh dengan suasana ijtima’. Dan ketika ia mendengar Kolonel Amiruddin Canada memberikan bayangan, ia menyatakan, bahwa apa-apa yang di bayangkan sudah terlihat dalam kenyataan suasana ijtima’ pada saat itu.

       Ada juga seorang non muslim tua berumur 80 tahun. Ia berkata, “Sepanjang hidupku, tidak pernah kusaksikan kehidupan kaum muslimin yang demikian sebagaiman dalam pertemuan ini. Tidak aneh jika selama tiga hari itu hujan tidak turun, dan langit demikian cerah.”

       Kejadian-kejadian seperti ini bukan sekali dua kali terjadi pada Jamaah Tabligh. Berbagai peristiwa serupa telah terjadi di berbagai belahan dunia yang telah didatangi oleh jamaah Tabligh. Di Negara-negara kafir di Amerika, Eropa, Rusia, Asia, Australia. Afrika dipenuhi kejadian-kejadian seperti ini. Saksi saksi hidup masih banyak yang dapat menceritakan peristiwa ini. (untuk lebih lengkapnya, silahkan menjumpai para masyaikh di India dan Pakistan yang telah banyak mengalami langsung hal ini dalam perjalanan dakwah mereka. Kisah – kisah perjalanan mereka pun diantaranya telah dibukukan).

       Oleh sebab itu, tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh jamaah Tabligh dengan mentablighkan agama kepada sesama muslim, demi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada allah. Dengan usaha ‘mengislamkan orang Islam’ terlebih dahulu, maka diharapkan, maka setiap muslim dapat menjadi sebab hidayah bagi orang –orang non muslim.

Sumber : e-book pikir sesaat untuk agama


Share on Google Plus

About Rizal IBNU MAKMUR

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

WHAT IS YOUR OPINION?