ADA PERSONIL NOAH [PETERPAN] YANG AKTIF DI JAMAAH TABLIGH

Meski tidak tergabung dalam fansclub Sahabat Peterpan, tapi sebut saja saya ini fans-nya Peterpan a.k.a Noah. Sejak pertama muncul, saya tidak pernah melewatkan untuk membeli kasetnya. Begitu pula saat bukunya terbit. Buku berjudul Kisah Lainnya yang sudah saya dengar gaung promosinya, langsung saja saya buru di Gramedia.
Kisah Lain
Kisah Lainnya diterbitkan oleh Penerbit KPG dan ditulis oleh para personil Peterpan, yaitu Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Buku ini mengisahkan perjalanan mereka di tahun 2010-2012, tahun di saat mereka “menghilang” dari blantika permusikan. Meski sebenarnya  tidak hanya di range tahun itu saja sih, karena mereka juga sedikit flash back tentang bagaimana mereka dulu bisa bertemu dan bagaimana perjuangan mereka meniti karir di permusikan Indonesia.

Shocking moment di tahun 2010 yang menimpa Peterpan terutama Ariel, saya rasa semua orang sudah tahu. Tahun itulah yang pada akhirnya menjadi titik tolak hidup Ariel, yang kemudian berimbas sangat besar pada perjalanan karir personil Peterpan, serta kru-kru di balik layar Peterpan. Di sinilah inti cerita yang ingin dikisahkan oleh mereka. Sebenarnya, selama dua tahun ini mereka semua ke mana sih? Bagaimana mereka menghidupi keluarganya, kalau ladang pangan mereka terpaksa vakum? Nah, semua jawabannya ada di sini.
Sebagian besar buku ini ditulis oleh Ariel. Hhmm … ya kira-kira 80% dikisahkan oleh Ariel, 10% oleh Uki, dan 10% sisanya dibagi untuk tulisan Lukman, Reza, dan David. Ariel menceritakan banyak tentang kehidupannya saat di Rutan Bareskim dan Kebon Waru. Apa saja kegiatannya, bagaimana kecamuk perasaannya, dan siapa saja tahanan yang ditemuinya di sana. Salah satunya adalah Abu Bakar Ba’asyir yang dipanggil oleh para tahanan dengan panggilan Pak Ustad.

Untuk beliau, Ariel menuliskan puisi ini:
Ba’asyir tua, berlari kecil, di gang yang bergema
larut dalam dunianya sendiri
dia tidak menoleransi dunia
sehingga dunia tidak menoleransinya
keras memang, tapi apalah arti pendirian jika tidak keras
hitam atau putih, tapi tidak abu-abu
keras memang …
andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat
Dari goresan cerita Ariel pula, saya menyadari bahwa ternyata Ariel adalah seorang seniman. Dia tak hanya menciptakan lirik-lirik lagu yang maha dahsyat untuk Peteran, tapi juga puisi-puisi, lukisan, dan tentu saja tulisan di buku ini. Ariel suka membaca buku, bahkan di balik terali besi pun buku-buku dilahapnya. Tetapi masalah yang menimpanya membuat otaknya tumpul untuk menciptakan lirik lagu. Ya, bagi beberapa seniman, tidak setiap masalah bisa menghasilkan karya untuk dijadikan “uang”.

Dari penuturan Uki, saya baru tahu kalau selama vakumnya Peterpan dari blantika musik Indonesia, ternyata dia tidak benar-benar menghilang dari musik. Dia mendirikan band bernama Astoria. Dia pula yang berjuang mengumpulkan para personil Peterpan yang menghilang, untuk menggarap proyek baru Suara Lainnya, sebuah album yang berisi lagu-lagu hits Peterpan dengan iringan instrumen saja. Cuma “Cobalah Mengerti” saja yang ada penyanyinya, yaitu Momo – Geisha. Album ini nantinya menjadi bonus tiap pembelian buku mereka ini, Kisah Lainnya.

Dari tulisan Lukman, saya juga baru tahu kalau dia aktif di Jamaah Tabligh. Bahkan dia dan keluarga sudah pergi ke New Delhi juga untuk mendalami agama. Selanjutnya, dia pula yang mengajak Reza untuk bergabung dan “mencari” Tuhan melalui Jamaah Tabligh. Satu yang saya acungi jempol, keaktifan mereka tidak lantas membuat mereka memilih untuk berhenti dari dunia musik. Mengubah hidup menjadi lebih dekat pada Tuhan dan rajin sholat, memang iya. Tetapi realitis untuk bekerja menghidupi keluarga dari skill musik, itu juga penting.

Terakhir, dari tulisan David saya juga baru tahu kalau selama Peterpan vakum dia sempat kritis, antara hidup dan mati. Dia adalah korban malpraktik yang mengakibatkan dia harus dioperasi beberapa kali lagi supaya penyakitnya tidak kambuh lagi. Duh, sedih sekali baca bagian ini.

Kekurangan buku ini menurut saya adalah alurnya yang mbolak-mbalik. Saat dikisahkan Ariel sebentar lagi bebas, kenapa tiba-tiba balik lagi ke kisah saat Ariel menghadapi sidang? Bukankah kalau tulisan ini diperbaiki lagi alurnya, akan lebih enak dibaca. Tapi, bisa jadi karena diburu waktu terbit (karena saat itu Ariel sudah keluar dari penjara), maka editingnya tidak begitu maksimal. Ditambah lagi, basic mereka bukanlah seorang penulis.

Tapi sekali lagi, keberanian mereka menuliskan kisah ini patut diacungi jempol!
Untuk kalian penggemar Peterpan aka Noah, sebaiknya beli dan baca buku ini. Nikmati karya lain Peterpan dalam bentuk buku dan dengarkan lagu-lagu mereka dalam aransemen yang sangat berbeda. Manjur untuk mengobati kangen pada aksi mereka.

Sumber : IKRAM BRO !
Share on Google Plus

About Rizal IBNU MAKMUR

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

WHAT IS YOUR OPINION?