SURAT SEORANG TEMAN YANG AKTIF DALAM DAKWAH

Assalamualikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, ..

A‘udzubillaahi minas-syaithaanirrhajiim…

Bismillaahirrahmaanirraahiim…

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"

( QS Fusshilat : 33)

Saudaraku (disini saya rahasiakan nama anda) kemarin seseorang mengirimi saya berupa email mengenai obrolan/chat anda dan dia yang mempersoalkan keberadaan saya di dalam Jamaah Tabligh (sebutan masyarakat).

Saudaraku, semua yang anda katakan dalam tulisan di ruang chating itu,sepertinya sudah pernah saya baca di salah satu situs,saya lupa nama situsnya tapi klo kita browsing mudah ko dapetin tu topik yang hampir menyebar diseluruh situs khusus firqoh (kelompok) yang sangat anti dengan JT karna mereka menganggap jamaah ini bid’ah dengan khuruj-nya, tapi sepertinya bukan jamaah ini aja yang mendapat klaim bida’h semua yang bukan golongannya dan manhajnya adalah bid’ah dan setiap bid’ah patut diperlakukan buruk.

Saudaraku, semua yang anda utarakan sepertinya bukan dari pengetahuan anda secara fakta, jujurlah diantara kita ada Allah.. bagaimana anda bisa mengetahui kedalaman lautan dan merasakan keindahan didalamnya tanpa sedikit saja korbankan rasa takut dan kekhawatiran untuk menyelam.. cara anda menilai dan memandang suatu Perkarapun sepertinya tidak berdasarkan dengan bukti yang shahih, melainkan dari berita dan “katanya”. Bukankah itu akan menjadi fitnah! Untuk menyelam butuh tekad dan keberanian? Cobalah dulu! anda keluarlah tiga hari, rasakan apa yang juga saya dan yang lainnya rasakan baru bisa menyatakan tentang suatu peristiwa...

Saudaraku buat saya benar adalah benar dan salah adalah salah.. bagaimana mungkin saya benarkan sesuatu hanya dengan mendengar tanpa melihat dan coba untuk mengenalnya. Ada ungkapan tak kenal maka tak sayang. Dalam belajar saya mengawalinya dengan membaca. Membaca bukan dengan logika tapi dengan hati. Hati yang dituntun Ilahi ialah ilham, inilah akar dari suatu kebenaran. Didalamnya tidak ada keingintahuan, atau sekedar ingin tahu dan penasaran melainkan kesan. Kesan yang muncul karna kekaguman amal, bukan ilmu yang hanya bisa dituntut dan dimiliki hingga menumpuk tanpa adanya kekuatan amal.

Bukan ilmu yang membuat kita mampu untuk beramal melainkan iman. Sekarang banyak orang yang tahu tapi sedikit yang paham. Iblis mengetahui semua kitab yang ALLAH turunkan zabur, taurat, injil dan Al-Qur’an ia kuasai. Ia mengetahui apa yang sedang dan akan terjadi di alam ini. Tapi pengetahuannya satupun tidak membuatnya taat akan perintah ALLAH begitu juga seorang orientalis seperti Snock Horgounze ia mengetahui Al-Qur’an dan Hadist menguasai ilmu tafsir dan menghapal ratusan Hadist dari Shahih, Dhaif, Maudu’ hingga yang Matruk. Bahkan ia dijuluki ulama tapi nyatanya tetap dihati dan pikirannya adalah kebencian dan bagaimana agar dapat memecah belah umat islam. Intinya siapapun bisa tahu tapi untuk paham tunggu dulu, ALLAH yang menghendakai siapa yang akan Ia beri kepahaman.

Barang siapa yang dikehendaki ALLAH untuk diberi kebaikan (Ilmu), maka ALLAH akan memberikannya kepahaman dalam Agama.” (HR. Mutafaq ‘alaih dari muawiyah r.a – kitab al abwab al muntakhabah min miyskat al mashabih hal .69)

Untuk mengamalkan memang tidak mudah karna dibutuhkan iman yang betul yaitu keyakinan akan kebesaran zat ALLAH Al-Khalik (pencipta) dihati dan meniadakan kebesaran makhluk( yang dicipta ) dari hati. Meningkatkan iman bukan dengan ilmu melainkan dengan pergorbanan. Iman Bukan hanya sekedar ucapan syahadat yang telah keluar dari mulut kita, bukan sekedar pengakuan bahwa tiada tuhan selalin Allah. Melainkan suatu keyakinan yang harus dibenarkan oleh hati.

“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain ALLAH sedang hatinya membenarkan apa yang diucapkan lidahnya maka dia akan masuki syurga dari pintu mana yang ia kehendaki.” (Hr. Abu ya’la dari Abu Bakar Ash shiddiq}.

Agar bisa sampai dari mulut kehati itu bukanlah perkara yang mudah dibutuhkan pengorbanan dibutuhkan usaha, usaha yang juga dilakukan para Anbiya As., Rasulullah Saw., Sahabat R.Hum, dan yang mengikutinya dengan baik sepeti Syuhada, Siddiqin dan Shalihin.

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". ( Yusuf:108)

Mereka keluar/khuruj (hijrah) dari kampung mereka mereka korbankan diri mereka, harta mereka, waktu mereka untuk agama Allah. Mereka menghadapi situasi ditempa keadaan, dicaci - maki, dipukuli, diboikot, terasingkan dari yang banyak. Mereka bersabar dengannya bertahan dengan keimanan mereka hingga mereka dapatkan kejayaan sesungguhnya yaitu ridha ALLAH.

Sekarang keluarlah tiga hari, tinggalkanlah sementara kampung anda jadilah Muhajirin, datangilah kampung-kampung saudara kita yang lain, mereka adalah Anshar. Kita hidupkan suasana agama di mesjid-mesjid mereka. luangkanlah waktu karna tidak ada waktu luang kalau kita tidak meluangkannya, gunakanlah harta untuk agama bawalah uang 15000 rupiah karna dalam 3 hari kita korban/patungan untuk biaya perbekalan kita selama tiga hari. Bukan untuk formulir pendaftaran, bukan untuk organisasi. Selama saya di dalam usaha dakwah ini saya tidak pernah melihat tanda-tanda mengenai organisasi. Saya tidak melihat adanya struktur, seksi-seksi dan sejenisnya. 5000 rupiah, setiap harinya kita makan 3 kali. Kalau gak ada duit ya bawa beras atau apalah sebagai perbekalan yang bisa dijadikan syarat pengorbanan dijalan ALLAH. ALLAH tidak melihat apa dan nilai yang kamu korbankan melainkan kesanggupanmu untuk berkorban dan berjuang dijalannya. Kemudian rasakanlah apa yang kami rasakan. Penolakan, ditertawai dengan apa yang kami pakai. Ketika kami datangi rumah ke rumah yang kami dapat ialah umpatan, diacuhkan, dikira minta sumbangan,tak didengar, padahal kami datangi mereka dengan niat silahturami. Jika yang kami datangi menerima kami, kemudian kami memperkenalkan diri dengan bersalaman disertai penegasan tentang kita sebagai saudara muslim yang diikat oleh kalimat iman laa ilaha illa ALLAH- MUHAMMAD rasulullah. (inilah maksud utama kita keluar/khuruj menyampaikan kalimat tauhid ini) dan kemudian kami menyampaikan(Tabligh) /nasihat - menasihati (lihat di alqur’an surat Al-‘ashr) tentang pentingnya iman dan amal saleh, dan mengajak (dakwah) ke mesjid untuk menghadiri majelis iman sambil mendengarkan pembicaraan mengenai kebesaran ALLAH. Kemudian shalat berjamaah.

Sebagaimana rasulullah sampaikan kepada Sahabat R.Hum jika kalian inginkan ilmu datang padaku dan pintunya ialah Ali R.a kalau kalian inginkan iman keluarlah dan sebarkan kalimat tauhid maka kau akan bahagia. Sayidina abu bakar R.a bertanya setelah ia bersyahadat. “Apa yang saya lakukan setelah ini ya rasulullah?”, Rasulullah katakana “apa yang sedang aku kerjakan kamu juga kerjakan (dakwah).” Seperti itulah rasulullah mengajarkan sahabat untuk mengeluarkan kebesaran – kebesaran material/kebendaan(makhluk) dari hati-hati mereka dengan mendakwahkan kalimat laa ilaaha illa Allah. Sehingga ketika murni hanya kebesaran zat ALLAH dihati barulah ada kemampuan untuk menaklukkan sesuatu. Jadi dengan dakwah kita dapatkan iman bukan dengan ilmu. Suatu perumpamaan ilmu itu ibarat air dan iman adalah wadahnya, apabila wadahnya kecil dan airnya banyak maka akan tumpah - meruahlah isinya, tapi apabila wadahnya besar walupun airnya setetes tentu itu lebih bisa manfaat. Seperti satu perkara dalam fadha’il (keutamaan) dan masa’il (fiqih) adalah ilmu yang wajib diamalkan dan disampaikan. Walau hanya satu perkara, semisal keutamaan shalat dan cara melakukannya inilah setetes yang bermanfaat, dan hanya bisa dilakukan dengan iman yang kuat.. tapi walaupun banyaknya ilmu sementara imannya sedikit untuk mengamalkan dan menyampaikan akan terasa sulit.

Dari anas bin malik r.a., ia berkata , kami bertanya, “ ya rasulullah, kami tidak akan mengamalkan semua kebaikan ( ilmu: sunnah/ amal saleh) dan kami tidak akan mencegah ( dakwah/ amar ma’ruf nahi mun’kar) kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran. “ maka nabi saw. Bersabda, “ tidak, bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan cegahlah dari kemungkaran, meskipun kalian belum meninggalkan semuanya.” ( Hr. Thabrani ).

Hadist ini untuk mereka yang beranggapan bahwa dakwah itu harus pintar dulu, berilmu dulu, tahu dalil dalil yang shahih, mungkin agar bisa mengajari/ menggurui mereka atau membid’ah-bid’ahkan yang bodoh. Saudaraku pengertian dakwah itu mengajak bukan mengajari, ad’u ilallah ( Qs: yusuf- 108) ialah mengajak/menyeru kepada ALLAH. Sementara Mengajari adalah tugasnya ulama mereka ialah pewaris Anbiya A.s, kitalah yang bertanya pada mereka. Yaa.. tapi liat juga ulamanya, mumpuni atau tidak, mengamalkan sunnah atau tidak, memiliki syarat untuk berijtihad atau tidak? Untuk menjadi mujtahid Ulama memberikan syarat syarat, yakni harus menguasai minimal 15 cabang ilmu, diantaranya Ilmu Hadist , Ilmu Balaghah, Ilmu Isytiqaq, Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf, Ilmu Lughat, Ilmu Ma’ani, Ilmu Bayan, Ilmu Badi, Ilmu Qira’at, Ilmu Aqa’id, Uhul Fiqh, Ilmu Ashbabun Nuzul.

Banyak yang habiskan waktu untuk ta’lim, ada yang habiskan 8 jam untuk mepelajari kitab - kitab agama dan ada juga yang tiap minggu dia habiskan untuk menghadiri kajian bedah buku, tapi apa kenyataannya? Mereka masih mempertimbangkan amal demi menyesuaikan dengan keadaan. sepertinya tidak “sami’na wa atha’na”, kami dengar dan kami taat, tapi kami dengar dan kami pikir-pikir.

Kita sama sama tahu akan keutamaan shalat berjamaah dan bahkan hampir saya tidak pernah menemukan hadist tentang shalat fardhu dirumah. Rasulullah hingga akhir hayatnya selalu shalat di mesjid, ketika beliau sakit beliau dipapah kemesjid hingga shaf terdepan dan Abu bakar R.a disuruh menggantikan posisinya sebagai imam.

Namun kenyataannya saat Azan dikumandangkan bahkan tak menggetarkan hati mereka ketika diserukan kebesaran ALLAH. “ALLAHU AKBAR , ALLAHU AKBAR” kenyataannya ALLAH kecil dan Obrolan bahkan debat kita lebih hebat dan besar dari pada kebesaran ALLAH yang sedang di kumandangkan. ALLAH kecil, pekerjaan – pekerjaan kita besar, hobi kita besar, ALLAH hanyalah sisa sisa cangkul dan lembaran kertas kerja kita dan ampas-ampas dari hobi yang membuat kita puas. ALLAH adalah Sisa Kepuasan-kepuasan kita. Tapi apabila di tv, radio, ditayangkan band atau penyanyi pavorit, kita langsung meloncat, fokus (tawajuh), konsentrasi ( khusyu) sampai merinding terkesan. Na’uzubillah.. Lalu apa posisi ALLAH ,hamba atau rabb kita?

Disini saya kutip pesan sheik abdul qodir al - jaelani dalam kitabnya, Al – fathur Rabbani Wal Faidlur Rahmani ( kebahagian dan kemulian kekasih ALLAH):

Sungguh nifak dan dusta masih mewarnai gerakmu pada siang maupun malammu. Syaitan telah menipu dan menghiasi dusta dan amal – amal baik untuk mengelabuimu. Sehingga kamu berdusta dalam shalatmu, karna kamu mengatakan ” ALLAHU AKBAR” (ALLAH Maha Besar) tetapi dihatimu masih ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu yang kamu bersandar kepadanya adalah tuhanmu. Demikian juga segala sesuatu yang kamu sandarkan harapan kepadanya. Hatimu tidak sama dengan lidahmu. Katakan ” ALLAHU AKBAR ” seribu kali di hatimu dan sekali dilidahmu. Kamu tidak malu mengucapkan laa ilaaha illa Allah, padahal kamu mempunyai sesembahan selain dia. Bertaubatlah kepada Allah swt. Dari semua kesalahanmu. Adapun kamu wahai orang yang mengaku berilmu dan beramal, apakah gunanya ilmu itu bagimu? Jika kamu mengatakan “ saya berilmu” sesungguhnya kamu telah berdusta,-

“ Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” (Q.s Ash – Shaff:2)

Ya allah aku memohon ampun dan bertaubat atas kelemahan dan ketidak mampuanku dalam menyempurnakan amal sesungguhnya tidak ada daya bagiku melainkan apa yang telah engkau mudahkan atasku.

Padahal Dengan banyaknya buku fadai’l (keutaman) seperti Kitab Ihya, rhiyadus sholihin, Fathul Baari,Targhib wa Tarhib, hingga Tanbihul Ghafilin dan Masail (masalah) seperti kitab Al Fiqh Al Wadih, Usul fiqh, Al-Fiqh ‘ala Al-Mazahib Al-Arba’ah dan lain –ain. Serta dengan ta’lim mingguan atau bedah buku kita dapat Mengetahui keutamaan-keutamaan beramal atau nilai-nilai beribadah dan ancaman apabila meninggalkannya juga tentang adab-adab sunnah seperti bagaimana seorang muslim berpakaian, makan, membaca alqur’an hingga adab di mesjid, kamar mandi atau wc dan adab adab lainnnya. Namun fakta-nya banyak yang tak sanggup mengamalkanya apalagi untuk dijadikan suatu kebiasaan...

Pada waktu bulan ramadhan diadakan I’tikaf di masjid al azhar 10 hari terakhir, tahun kemarin, sepertinya tiap tahun diadakan. sering saya perhatikan beberapa diantara mereka yang juga berjanggut,celana diatas mata kaki tapi tanpa peci atau sorban ( mungkin masih malu, karna masih takut terlihat jelek dan katro atau bid’ah padahal rasululah suruh kita untuk hidupkan sunnahnya yang termasuk didalamnya adalah cara berpakaian, yang mana tergolong dalam sunnah surah (potret), yang salah satu diantaranya ialah tutup kepala.) dan ketika beritikaf mereka tidak menggunakan adab - adab mesjid. Kaki mereka kearah kiblat, tidur tengkurap, tidak memaki suprah/alas tidur dan banyak lagi adab-adab yang tidak mereka amalkan entah belum mereka pelajari atau lupa lantaran terlalu banyaknya masalah yang mereka bahas saat ta’lim mingguan mereka. di toilet-pun saya melihat mereka kencing berdiri dan pada saat jam makan sahur saya perhatikan mereka makan dan minum berdiri, tak jarang saya juga melihat ustadz melakukannya. mungkin nanti saya akan buat postingan khusus mengenai adab-adab yang disertai juga hadist- hadistnya.

Sungguh bertentangan dengan apa yang Rasulullah Saw. ajarakan dan dari apa yang mereka pelajari saat ta’lim. Bukankah dalam bab Thaharoh (kebersihan) ada tertib yang diawalai dengan istinja kemudian wudhu baru shalat. Kemudian bagaimana jika awal tertibnya aja sudah berantakan bagaimana shalatnya.

Sangat berbeda dengan apa yang saya dapat saat mudzakarah ketika keluar 3 hari pertama kali dan semua yang saya dapat dalam mudzakarah terasa mudah untuk saya amalkan, dan ini pun dirasakan dan di alami yang lainnya. Dalam mudzakarah kami belajar mengenai adab sehari-hari salah satu diantaranya ialah mengenai adab istinja yang diawali dengan 3 langkah sebelum masuk wc, kita baca doa masuk wc kemudian dengan memakai tutup kepala, tidak menghadap kiblat, tidak berlama-lama , kemudian cara buang airnya jongkok dengan posisi lutut kiri tegak dan tumit kanan menopang bagian belakang sehingga posisi paha dan lutut sejajar, sambil tangan kiri memegang zakar kemudian kalo sudah keluar sempurnakan dengan istibro seperti memompa nya sambil berdehem kemudian zakar seperti diurut dari pangkal hingga ujung. Kemudian di finishing dengan mengusap batu 3 kali dengan sisi yang berbeda, tapi kalau tidak ada ya boleh dengan tisu ato kain. Kalau dengan cara ini dijamain tuntaslah sisa sisa yang masih ada diselang zakar kita yang kadang menetes ketika pada saat kita ruku atau bergerak. Nah, tetesen itu membatalkan wudhu kita karna najisnya, lalu gimana shalat kita, Apakah sah? Ya memang, untuk pertama kali memulainya agak sulit tapi klo anda sungguh-sungguh hidupkan sunnah, itu akan membiasa dan mudah.

Itulah salah satu adab yang saya pelajari ketika pertama kali keluar tiga hari. Kita bermuzakarah mengenanai adab adab mulai dari instinja, makan, mandi, adab mesjid, tidur, berpakaian, dan banyak lagi. Dengan membentuk lingkaran saling mengisi dan mengulang ulangnya, dipimpin oleh yang sudah berpengalaman dalam usaha dakwah. Mudzakarah adab –adab tanpa kitab dan juga catatan karna semua harus tercatatat dikepala. Dan cara ini sangatlah mudah sehingga bagi yang tidak dapat membacapun mereka bisa langsung mengamalkanya dan bagi mereka yang bisa membaca mereka dengan sendirinya setelah keluar tiga hari akan mencari kitab dan ustadz tanpa harus dianjurkan.

mudzakarah ialah suatu cara yang Rasulullah Saw. lakukan kepada para sahabat. Sehingga sahabat mampu beramal walapun memiliki keterbatasan. Oya sekedar informasi bahwa jumlah sahabat rasulullah ada 1.24000 ( seratus dua puluh empat ribu ) dan diantara mereka berbeda beda karakter, ada yang pintar ada yang standar bahkan jauh dari standar ada yang cerdas dan ada yang terbatas ada yang sangat kaya dan ada yang sangat miskin ada orang tua ada anak-anak. Mereka yang hidup bersama rasulullah saat rasulullah masih hidup dan beriman padanya merekalah sahabat yang allah ridha kepada mereka. Itulah mengapa mereka yang pernah keluar 3 hari dengan niat yang betul yaitu memperbaiki diri bukan untuk sekedar ingin tau atau penasaran mereka dengan mudah dapat mengamalkan.

Saya merasakan semakin jauh saya menyelam dalam usaha dakwah ini semakin saya meyakini bahwa ini sesuai dengan seperti apa yang Rasulullah Saw. contohkan. Ini bukan untuk dibangga-banggakan dan membandingkan saya berlindung kepada ALLAH daripada maksud lain dari hati saya dan bisik- bisikan setan yang tak henti henti dan pandang bulu dalam menyesatkan. Jangan Tanya dalil tiga hari, sekarang sederhananya saja, apakah pondok pesantren ada dalilnya? Apakah pada jaman Rasulullah ada yang namanya bedah buku? Tapi apabila anda mengetahui kisah-kisah didalam Al-Quran dengan asbabun nuzulnya, hadist dengan sarah-nya serta kisah kisah kehidupan para sahabat. Maka disitulah anda akan dapatkan makna dari 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Dimana ulama untuk menetapkan ini sebagai program kerja agama tidak sembarangan dalam menentukan, mereka menguasai ilmu- ilmunya. Mereka telah berkorban, mujahaddah dan Zuhud untuk mendapatkannya.

Oya kalau anda menganggap bahwa mereka yang ada di jamaah tabligh itu bodoh – bodoh, ya memang sebagian besar dari kami juga termasuk saya memang bodoh, bahkan semakin dalam kami menyelam dalam usaha dakwah ini kami merasa semakin merasa bahwa kami memang bodoh dan tidak mengetahui apa-apa tentang agama. Jika anda anggap kami tidak berilmu saya sangat mengakuinya dan yang lainpun dengan senyum akan mengakui itu. Rata-rata dari kami berlatar belakang buruk dan bukan orang baik-baik, kami sangat awam tentang islam. Ada mantan pembunuh, koruptor, penzina, penjudi, banyak ahli maksiat berkumpul disana. Tapi mungkin itulah kenapa ALLAH Swt. dengan rahmat-nya alihkan kami dari buruknya lingkungan kehidupan masalalu kami dan menempatkan kami disana, setidaknya kami belajar untuk baik. Dan kalau pun anda dapati saya atau yang lain salah dalam sikap dan ucap ya mohon dimaafkan dan rangkul kami dan ajarilah kami, toh kami masih belajar. Berilah kami ilmu, karna kami haus akan ilmu. Tapi tolong jangan hasut kami untuk keluar dari keberadaan kami. Dan jika anda anggap kami ini syrik(menyekutukan ALLAH) saya pun tidak akan menyangkalnya. Ya saya memang syrik, karna masih ada tuhan tuhan lain dihati saya, masih ada selain ALLAH Swt. dihati saya saya masih hamba nafsu saya, saya hamba pekerjaan saya, saya hamba makanan. Itulah kenapa saya merasa penting untuk khuruj/keluar karana hakikat khuruj/keluar yang saya pahami ialah untuk mengeluarkan kebesaran benda-benda (material) dari hati dan menumbuhkan yakin yang mutlak terhadap ke-esa-an ALLAH serta ZUHUD terhadap Dunia. Tapi jika anda anggap saya menyembah kuburan dan segala tuduhan fitnah mengenai kesyrikan kami. Saya tidak sebodoh dan tidak sekolot itu dalam memahami arti ilmu.

Anda sebut kami bodoh, anda sebut kami tidak berilmu dan syrik, itu mungkin karna bagaiman anda memandang penampilan kami dan latar belakang kami, dan mungkin anda pas kebetulan bertemu dengan saya dan beberapa yang seperti saya. Tapi kalau saja anda main ke masjid kebun jeruk, dan anda mencari Ahli hadist, Ustadz, Ulama, disana saya jamin anda akan mendapatkan lebih dari apa yang anda perkirakan. Disana anda akan bertemu ahli ahlinya. Oya saya pernah diberitahu sama orang tua yang berpengalaman dalam dakwah, ia mengatakan bahwa ciri-ciri apabila dakwah itu diterima, maka didalamnya akan banyak ditemukan orang-orang bertaubat dari ahli maksiat, banyak orang-orang miskin, banyak ulama, ustadz (ahli kitab) yang membenarkannya. Sekarang ketika disana saya saksikan kanyataan itu, mantan penjahat, orang- orang miskin, dan ustadz-ustadz dari berbagai pondok-pondok pesantren, dan saya mendengar kisah-kisah mereka yang akhirnya membenarkan usaha dakwah ini. Dan saya bertemu dengan orang-yang sebelumnya menghujat, membid’ahkan usaha dakwah ini dan akhirnya ia pun keluar 4 bulan dan saya lihat kesungguhan mereka, dan rata rata mereka adalah ustadz. Sementara yang saya amati mereka yang tidak lagi ada dalam usaha dalam dakwah ini, adalah mereka yang baru keluar tiga hari dengan niat ingin tahu dan penasaran, mereka tidak istiqamah, dan tidak terjun untuk aktiv lebih dalam. Kalaupun ada yang sudah 40 hari atau 4 bulan dan ia juga akhirnya tidak aktiv lagi, disini saya perhatikan rata rata mereka tidak lagi ada hubungan dengan jamaah, dan hadir dalam musyawarah. Sekedar mengingatkan bahwa setan tidak pandang bulu, dan tak akan berhenti menyesatkan.

Waktu pertamakali saya memakai pakaian sunnah seperti gamis, kurta, sorban, peci,siwak, imamah.. seorang teman yang sudah lama dan aktiv dalam dakwah, selalu memotivasi saya untuk jangan peduli dengan apa yang masyarakat katakan, yakin bahwa di balik sunnah ada kejayaan. Ia kemudian bercerita “bagaimana dulu di awal awal dakwah masuk ke indonesia sekitar tahun 60an dimedan dan 80an di Jakarta (mesjid kebun jeruk) , ketika kami terjun kemayarakat dengan pakai-pakaian sunnah mereka pandang kami aneh dan beranggapan bahwa kami membawa agama baru, mereka anggap kami agama dari India dan Pakistan bahkan firqah yang sangat membenci kami pun juga memfitnah kami dengan sebutan sesat dan bid’ah, tapi sekarang yang kami rasakan dahulu dan yang kami saksikan sekarang bebeda, sekarang semua telah memakai apa yang kami pakai bahkan firqah yang tadinya menyesatkan dan membid’ahkan kamipun akhirnya juga memakai apa yang kami pakai dulu dengan penuh pengorbanan. Sekarang hampir disetiap mesjid kami menyaksikan pakaian- pakaian itu dan sudah banyak dipasarkan, mungkin nanti akan menggantikan trend baju koko, dan pada akhirnya mereka memakai pakaian sunnah seperti gamis, jubah dan kurta dan disempurnakan dengan peci dan sorban sebagaimana rasulullah berpakaian.” Boleh dikatakan merekalah yang memulai dan mempeloporinya, dan mereka istiqomah dengannya. Karna keyakinan mereka akan nilai sunnah, yang dimana ada ridha Allah apabila kita melaksanakannya.

“Dan Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Korbankan dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)”. (QS. 4: 66)

saudaraku dakwah rasulullah sudah cukup sempurna ALLAH swt. Menetapkan caranya sebagai sunatullah. Rasulullah Saw. datangi umat bukan didatangi. Sudut-sudut jalan, lorong ke lorong, pintu-pintu rumah hingga kekampung-kampung tidak ada satupun yang tidak di datangi oleh beliau untuk mengajak manusia untuk taat kepada Allah dan rasulnya. Dan rasululullah dalam dakwah selalu menyampaikan fadilah-fadilah/keutamaan bukan menyampaikan masalah-masalah dengan membeberkan masalah kepada yang akan di ajak. Kita tahu bagaimana rasulullah menyikapi kemusyrikan di mekkah, 360 berhala berjejer di sekitar ka’bah. Apakah rasulullah mendatangi kaum musyrikin (sebelum sahabat) dengan membeberkan masalah mengenai kesesatan ibadah mereka dan membid’ah-bid’ahkan mereka. Saudaraku rasulullah mendatangi mereka dengan memberikan kabar gembira tentang islam dan keutamaan-keutamaannya. Maka dengan sendirinya setelah ia terima islam, dan memahami maksud Laa ilaha illa Allah-Muhammad rasulullah. Dengan sendirinya mereka hancurkan berhala-berhala tanpa Rasulullah Saw. perintahkan.

Dakwah tidak mengajak kepada golongan, partai dan diri. Dakwah kepada ALLAH. Dakwah tidak perlu lagi ditambah-tambahkan, seperti berdakwah dengan musik, atapun dikurang- kurangi seperti bercampurnya antara ikhwan dan akwat dalam satu majlis. Dakwah ya seperti cara rasulullah berdakwah. Dakwah bukan profesi untuk keuntungan dunia, dan apakah kita akan menukar agama kita dengan dunia.

Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( AN Nahl:95 )

Dakwah bukan agar kita dimuliakan masyarakat, dikagumi wanita oya rasulullah berdakwah mendatangi kepada laki-laki bukan kepada wanita kecuali pada saat mengajar dalam ta’lim. Ingat saudaraku! bahwa beda antara mengajak (dakwah) dan mengajar.

Saudaraku jika kalian membaca ini dan pernah melihat serombongan jamaah yang mendatangi wilayah anda kemudian beritikaf dimesjid anda yang dengan ciri-ciri jamaahnya berjanggut, sorban, gamis, terkadang dengan siwak disaku gamisnya, membawa kompor, mungkin seperti orang asing entah dari mana. Cobalah intip apa yang mereka kerjakan atau kalau berani duduklah pada saat mereka membentuk lingkaran, biasanya mereka sedang bermudzakarah atau sedang musyawarah. Maka itu semua akan menjawab keragu-raguan anda tentang mereka, apabila anda memahami nya dengan hati tanpa perasaan curiga, iri dan mencari-cari kesalahan.

Setelah saya keluar 3 hari saya memahami bahwa da’wah yang betul adalah dengan berjamaah, tidak sendiri sendiri . domba yang memisahkan diri dari kelompoknya adalah target yang mudah bagi srigala. ada pesan dari seorang ustadz yang saya sendiri kagum akan ketawadu’an-nya (kerendahan) ia juga seorang imam di Masjid Jami’ Kebun Jeruk. Ia berpesan dalam bayan-nya. Pertama seseorang yang beramal tanpa pikir, yaitu seseorang yang beramal seperti melaksanakan kewajiban dan sunah tapi ia tidak memikirkan bagaimana orang lain juga ikut taat dan shaleh seperti dia dengan mengajak (dakwah) dan saling nasihat menasehati (tabligh/menyampaikan) seperti yang diperintahkan ALLAH dalam Al-Quran surat AL-‘Ashr, maka orang tersebut seperti orang gila. Kedua seseorang yang berpikir tanpa beramal yaitu sebaliknya, banyak saya temui bahkan saya dulu pun termasuk dalam golongan ini. Yaitu seorang yang selalu membicarakan agama, membahas perkara agama, hingga memiliki pikir untuk bagai mana seseorang masuk islam tapi ia sendiri tidak beramal, misalnya ia tidak membaca Al-Quran bahkan tidak bisa dan parahnya lagi ia enggan untuk belajar, ia juga tidak shalat kalau pun shalat yang wajib-wajib aja, itu pun shalatnya dirumah, jadi terkesan seperti hanya untuk menggugurkan kewajiban. Dan masih banyak lagi permisalan permisalan yang bisa kita saksikan disekitar kita. Maka orang tersebut hanyalah seorang pengahayal. Ketiga ialah seseorang yang beramal dan berpikir, sepertinya secara tampak ia beramal dan berpikir tapi karna ia melaksanakannya tidak sesuai apa yang ALLAH kehendaki yaitu dengan berjamaah dan bermusyawah seperti yang rasulullah contohkan kepada sahabat dalam syiar dakwahnya, maka ia cenderung ada dalam arahan arahan seytan.

Saudaraku agama akan mendatangkan keberkahan apabila diamalkan secara sempurna dengan cara Nabi Saw. Rasululllah membawa risalah untuk seluruh alam(rahmatan lil ‘alamin). Rasulullah saw. dakwah kepada seluruh manusia (yaa ayyuhannaas) bukan Yaa Qaumii(wahai kaumku) atau yaa firqatii (wahai Kelompokku) rasulullah berdak wah kepada seluruh manusia, bukan kepada golongan, suku dan ras. Itulah mengapa ALLAH memberikan gelar kepada Kaum Muhajirin Dan Anshar dengan gelar Sahabat Radhiyallahu ‘anhum ajma’in, bukan orang – orang dakwah, orang tabligh, orang ini atau orang itu. Pertolongan ALLAH Swt. datang kepada ummatnya, bukan kepada kaum, firqah/kelompok, dan sebagainya.

Oleh karna itu kami dihantar, setiap rombongan jamaah yang dipimpin seorang amir yang telah dimusyawarahkan di markaz (Mesjid Jami’ Kebun Jeruk) untuk di kirim keseluruh alam, kami melintasi dunia dengan atau tanpa kendaraan sesuai dengan kemampuan pengorbanaan kami. Kami datangi tempat tempat yang tak bisa didatangi dengan kendaraan, kami kekota-kota, kampung-kampung, hingga hutan ke hutan dan ke lereng-lereng gunung. Selama masih ada manusia kami berangkat kesana untuk menghidupkan agama yang hampir telah hilang dan menegakkan kembali kejayaan kalimat TAUHID.

Ya Allah,… Seandainya di sebrang sana ada manusia, maka sampaikan aku untuk mendakwahkan mereka kepadamu. Agar tak ada satupun manusia dimuka bumi iniyang menyembah kepada selain engkau. ( Utbah bin Nafi’ R.a )

Sesungguhnya ALLAH tidak akan Mengumpulkan ummatku di atas kesesatan selamanya. Maka hendaklah kalian selalu berjamaah. Dan sesungguhnya tangan( pertolongan) ALLAH diatas jamaah” (Hr, Thabrani)

Sekarang banyak sekali jamaah -jamaah, semua mengaku Ahlussunnah wal Jamaah, padahal untuk mengetahui mana yang benar atau tidak sangatlah mudah. Cukup dengan memahaminya secara bahasa kita bisa merabanya, Ahlussunnah artinya orang yang ahli akan sunnah, yaitu orang yang menghidupkan/mengamalkan sunnah mulai dari sunnah surah, sirah dan sarirah. Dan wal jamaah artinya dan berjamaah. Berjamaah bukan sekedar berjamaah dalam ta’lim dan shalat berjamaah. Melainkan berjamaah yang didalamnya ada musyawarah, Berjamaah didalam gerakan dakwah. Kerja dakwah yang diputuskan berdasarkan musyawarah dan dengan tertib- tertib yang diberikan masyeikh/ulama yang memahami kerja dakwah. Bukan berjamaah kemudian berdemontsrasi turun kejalan-jalan pakai spanduk desertai yel –yel anti ini dan anti itu.

Disini saya belajar arti sebuah jamaah dimana saya belajar akan pentingnya musyawarah yang ada didalamnya, musyawarah adalah perintah ALLAH swt. (QS. Ali Imran: 159/QS. As Syura: 38) dan sunnah Nabi-saw. ” Tidak merugi orang yang beristikharah dan tidak menyesal orang yang bermusyawarah” (Hr. Thabrani). Musyawarah yang rasulullah contohkan bukan seperti yang selama ini saya ketahui tidak ada kegaduhan, tidak ada usulan yang mempersulit, tidak adanya penekanan terhadap usul orang lain, tidak ada penolakan terhadap usul orang lain yang membuat orang lain enggan mengajukan usul. Ini adalah sebagian adab-adab musyawarah dimana selalu di sampaikan sebelum musyawarah dimulai, insya ALLAH saya akan buat blog khusus mengenai adab dalam musyawarah berdasarkan contoh nabi saw. Bukan musyawarahnya orang barat. suara terbanyak, saling menjatuhkan dll.

Bahkan ketika dirumah bersama keluarga, dalam mu’asarah (bermasyrakat) , menentukan pekerjaan, memilih calon istri, kami pun akhirnya terbisa dengan bermusyawah. Bahkan ketika kami keluar rumahpun dianjurkan untuk tidak sendiri, karna sunnahnya kita keluar rumah itu tidak sendiri melainkan berdua, sehingga kita dapat memusyawarahkan pilihan, tujuan dan setidaknya kita terjaga dari kemudharatan (keburukan) saat kita sendiri.

Saudaruku semua yang saya sampaikan memiliki keterbatasan, karena saya masih belajar. Saya bersyukur kepada ALLAH Swt. atas kemudahan-kemudahan yang di berikan-NYA. sedikit kepahaman dan pengalaman yang saya sampaikan diatas itu setelah saya ada dalam jamaah itu..

Saya berusaha menyelam di dalamnya agar saya bisa eksis di dalamnya. Sebagaimana saya juga berusaha menyelam dalam komunitas Underground.. saya tidak mau setengah setengah, dulu saya korbankan masa, rasa, jiwa dan harta saya untuk ke-SKINHEAD-an saya, maka saya dapatkan keyakinan sebagai seorang SKINHEAD. Dengan penuh kebanggaan dan semangat Saya bicarakan tentang kebesaran SKINHEAD kepada siapapun hingga tumbuh kebesaran SKINHEAD di hati saya. Dan begitu jugalah Rasulullah Saw dalam mendidik Sahabat R.hum sebagaiman ALLAH mendidik Rasulullah. mereka di perintahkan untuk korbankan masa, rasa, harta dan jiwa dalam berdakwah, agar mereka mendapatkan keyakinan agama. Mereka selalu membicarakan kebesara-kebesaran ALLAH kepada siapapun yang ia jumpai, bahkan apabila ia tidak jumpai orang, hewan pun ia jadikan sasaran dakwah mereka. Semua itu mereka lakukan agar tumbuh kebesaran ALLAH dalam hati mereka. Itulah mengapa saya bersikukuh untuk tetap disini.. hingga saya yakin dengan keberadaan saya disini.

Saudaraku Imam Malik Rah. A . berkata “ tidak akan baik umat pada kurun (abad) terakhir ini kecuali (dengan cara) sebagaimana perbaikan Umat terdahulu”

Maka saya rasakan disinilah tempatnya, seperti berada didimensi yang lain ketika saya ada di Mesjid Jami kebun Jeruk. Satu-satunya mesjid yang hidup amal selama 24jam sebagaimana mesjid Nabawi pada masa Rasulullah Saw. Mesjid yang sederhana, Mesjid yang penuh dengan amal bukan penuh dengan benda benda mewah. Setiap harinya Ada pengiriman rombongan untuk di berangkatkan keseluruh alam untuk dakwah( dakwah Ilallah ), ada belajar mengajar (ta’lim’wata’lum) setiap hari saya saksikan mereka (dzikir dan beribadah)membicarakan kebesaran ALLAH dan menghidupkan sunnah, tidak ada pembicaraan dunia disana. mengaji, sujud, mudzakarah, musyawarah. Dan ada yang melayani (khidmad) semua seperti membawa saya ke dimensi sahabat, dan merasakan kehidupannya.

Ya ALLAH Engkau yang Awal dan yang Akhir, yang memiliki Kekuatan dan Keteguhan, ya Allah Engkau Kekasih orang orang miskin, ya Allah Engkau Maha Penyayang, Engkau yang Hidup dan Berdiri sendiri, dengan Rahmat-Mu ya ALLAH kami memohon pertolongan, perbaikilah keadaan kami urusan – urusan kami seluruhnya, dan jangan serahkan diri kami kepada hawa nafsu kami walau hanya sekejap mata. Ya ALLAH limpahkan kesejahteraan kepada junjungan kami Muhammad saw. Dan atas keluarga junjungan kami Muhammad saw. Sebagaiman Engkau telah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Ibrahim a.s dan ke atas keluarga junjungan kami Ibrahim a.s. sesungguhnya di di alam raya ini hanya Engkaulah yang Maha Terpuji.

Ya ALLAH istiqamahkan kami dalam dakwah, jangan campakkan kami setelah Engaku berikan Iman, Yaa ALLAH jadikan DAKWAH maksud hidup kami, hingga mati kami dalam dakwah. Beri kami kekuatan untuk bermujahaddah di jalan-Mu, ya ALLAH beri kami kekuatan untuk ZUHUD terhadap Dunia. Ya ALLAH Hati ini ialah singgasana- Mu Ampuni kami yang belum mampu sempurna membersihkannya dari kotoran dunia. Ya ALLAH sayangi kami seperti Engkau menyayangi Orang – Orang saleh terdahulu.. sayangi kami seperti Engkau menyayangi Umar bin khatab R.A dan Bilal bin Rabbah R.a, angkat kami dari buruknya kejahatan dan hinanya perbudakan, sebagaimana Engkau telah mengangkat sayidina Umar R.a dan Bilal. R.a dari kejahatan dan kehinaan menuju kemuliaan, ya ALLAH sayangi kami seperti engkau menyangi orang orang miskin dan orang orang yang dihinakan. Sayangi kami ya rabb.. sayangi kami sebagaiman Engkau menyayangi orang – orang shaleh terdahulu. ya ALLAH ampunilah dosa kami dan dosa dosa saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engaku jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang orang beriman. Ya ALLAH ya Rabb..Engkau maha pengasih dan Penyayang. Ya ALLAH ya Rabb, berikan kami kebaikan dunia dan kebaikan Akhirat, peliharalah, lindungilah kami dari adzab neraka.

Ya ALLAH karuniakan kesjahteraan dan keselamatan atas junjungan kami Muhammad saw., nabi yang ummiy, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagimu ya ALLAH Rabb ( penguasa) seluruh Alam. Amin..

Untuk kesempurnaan maksudku, dan agar terhindar dari kesia-siaan kututup ini dengan Do’a Kifarah:

subhanallah wabihamdihi subhanaka allahumma wabihamdika wa asyhadu allaa ilaaha illla anta astaghfiruka wa atuwbu ilaih. Wassalamualaikum warahmatullah wa barakatuh.

DJSKNIGHT

Share on Google Plus

About Rizal IBNU MAKMUR

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

WHAT IS YOUR OPINION?