BELAJAR SAMA ORANG (KATANYA) BODOH :)

Tahun 2008, saya pernah bayan dalam bahasa arab di satu mesjid dekat Jami’atul Iman, Sonaa, ibukota Yaman. Selesai bayan, seorang anak muda mengajak saya bertemu dengan para dosennya.Kami duduk di dekat taman dan saya dikelilingi 3 orang, salah satunya bertitel Doktor Syariah. Seorang di antaranya berkata:

- ‘Tadi dalam bayan anda mengatakan semuanya datang dari Allah, segalanya milik Allah, sedikit-sedikit Allah. Nah, saya punya anak dan isteri yang tinggal di balik bukit sana (sambil menunjuk ke arah bukit). Kalau saya tak mengirim belanja atau makanan, apa yang mereka makan, apakah ada yang langsung dari Allah ?’

- Saya pun menjawab: ‘Pertanyaan anda merupakan siaran ulangan dari pertanyaan Nabi Zakaria as:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Setiap kali Zakariyya datang ke mihrab, di situ dijumpainya makanan siap hidang, ia tanya :”Hai Maryam, dari mana makanan ini. Dijawab: Itu dari sisi Allah, Dia yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.[5]

Ada dua pelajaran, pertama; Pantaskah seorang Nabi bertanya tentang rezeki, padahal Nabi adalah guru tauhid, yang pasti sudah tahu semua itu datangnya dari Allah Swt. Kedua, yang ditanya seorang wanita (bukan Nabi, karena tidak ada wanita yang Nabi) dalam keadaan terkucil dilanda fitnah besar. Ternyata iman wanita itu mengagumkan, perhatikan, katanya:

‘Semua itu dari sisi Allah, Dia yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab’.

Bayangkan, wanita lemah dengan keluguannya dapat memberi tarbiyah (pelajaran) iman kepada seorang Nabi, bukankah Nabi itu professor iman ? Di sini Allah Swt memberi tarbiyah, bahwa orang pintar, ahli ilmu , bahkan seorang Nabi pun masih tetap harus belajar, dan kadang gurunya adalah orang awam atau yang lebih bodoh darinya.

Maka, seorang dari yang bertanya kepada saya menyatakan: ‘Sodaqta ya syeikh (anda benar bung)’.

Coba kita perhatikan lagi ayat ini :

;فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami .

Di sini jelas bahwa kisah Khidir yang orang biasa dan Musa as yang ulu al ‘Azmi tapi telah banyak bertanya dan itu sebagai bukti ketidaksabaran Musa as. Khidir telah memberi pelajaran sabar (sebagai wujud iman) kepada Musa as. Oleh sebab itu pula ayat tersebut menjelaskan “Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”, satu bukti bahwa ilmu tak selamanya dari guru atau ulama, Allah sendiri Maha Mampu memberikan ilmu langsung kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

(Ust. Abdurrahman Lubis)
Share on Google Plus

About Rizal Palangiran

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Pepatah Minang mengatakan "Alam takambang manjadi guru"
    Tidakkah kamu fikirkan bagaimana Allah swt indahnya menciptakan lawan jenis ?

    BalasHapus

WHAT IS YOUR OPINION?