JAWABAN ATAS ARTIKEL TABLIGH BINGUNG SALAFY MENJAWAB BAGIAN 2


http://4.bp.blogspot.com/_39yMZrX-lYA/TFjcU4T6VpI/AAAAAAAAABk/je7NzdA7B8w/s1600/rambu+larangan.jpg?dur=368
Waspadalah..













       ( Ini adalah bagian ke-2 dari penjelasan Ust. Abdurrahman Lubis dalam menjawab tuduhan - tuduhan yang dilontarkan salafy di situs ALMAKASSARI.COM terhadap buku karangan beliau yang berjudul, " QUO VADIS SALAFY ." )
Nukilan anda : “Makanya mereka (JT), verbalitas ilmu saja mereka tak punya. Tapi anehnya mereka lancang berdakwah di jalan Allah. Sampai preman-preman yang baru sehari tobat, eh malah ikut khuruj (berdakwah di jalan Allah). Verbalitas ilmu saja mereka tak miliki, apalagi hakikatnya. Seorang tak mungkin akan memahami hakikat ilmu dalam hati, jika ia tak memahami verbalitas ilmu dengan akalnya yang bersih”.

Itukan kalimat saya di QVS yang anda nukil ulang dan memukulkannya kembali ke saya.Sebenarnya di situ ada dua kemungkinan, pertama, orang-orang tabligh berdakwah tanpa ilmu, itu ada benarnya, karena memang mereka sedang menuntut ilmu dalam proses dakwahnya. Dakwah mereka itu merupakan rangkaian sempurna dari dakwah Ila Allah, ta’lim wa ta’allum, zikir/ibadah dan perkhidmatan. Bayangkan, itu yang mereka ulang-ulang selama 40 hari atau 4 bulan, dalam waktu khusus, suasana khusus, mendapat bimbingan dengan bayan hidayah dan diakhiri dengan bayan (bimbingan) pulang. Lagi pula di mana letak salahnya, mereka toh “berobat jalan’ (belajar sambil memperbaiki diri). Tempatnya juga di masjid-masjid dengan amalan I’tikaf, silaturahimnya ke rumah-rumah orang Islam. Kalam dakwahnya tentang kebesaran Allah dan sunnah Nabi saw. Jadi di mana letak salah dan bid’ahnya ? Dan semua yang mereka dapat itu akan diamalkan lagi di kampung masing-masing.

Bukankah kepada Nabi saw tidak diturunkan sekaligus 30 juz al Qur'an, tapi Allah Swt memberinya sedikit-sedikit, dalam proses panjang melalui media dirinya sendiri penuh susah payah dan nestapa. 13 Tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah, Nabi saw dituduh  pensihir, orang gila dan sebagainya. Tapi kan Nabi saw jalan terus. Begitu juga Nabi saw dan sahabatnya sekembali dari jihad di Badar dan di tempat lainnya. Bukankah apa yang mereka kerjakan merupakan siaran ulangan dari apa yang dikerjakan kaum salafus shalih, Nabi saw dan para sahabatnya dahulu ? Apakah kita lupa atau sengaja menutup mata, bahwa Nabi saw telah banyak mengutus sahabatnya untuk berdakwah ke negeri-negeri Irak, Mesir, Yordan, Yaman, dan sebagainya ? Mereka ada yang kembali dan kebanyakan syahid di perjalanan,  buktinya dari jumlah mereka yang 124.000 orang, makamnya di kubur Baki hanya 10.000, selebihnya bertebaran di berbagai negeri seluruh alam. Lalu, kalau kita merasa umat Nabi saw, kenapa kita tak mau mengikuti jejaknya dan para sahabatnya untuk menyebarkan Islam sambil mengishlah diri ? Kalau begitu, kita sebenarnya menjadi umat siapa ?
Anda bilang: “Jadi, Jama’ah tabligh yang berdakwah tanpa ilmu ibaratnya orang yang berusaha berenang demi menyelamatkan orang yang hampir tenggelam, sementara ia sendiri tak bisa renang. Hasilnya, ia dan orang yang ingin diselamatkan, semuanya tenggelam”.

Kata-kata yang benar, cuma tidak realistis, sebagai bukti ketidakfahaman kita. Karena setiap sesuatu itu ada hakikatnya atau ada pembuktiannya. Kenapa Allah menyebut Muhammad saw itu sebagai :

إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا
Sesungguhnya bagimu di siang hari berenang yang panjang[1]

Kata سَبْحًا  sabhan, dapat juga diartikan mempunyai urusan yang panjang (banyak). Apa yang menjadi urusan Nabi saat itu, ketika permulaan Islam ? Ya dakwah lah. Kalau kata sabhan diartikan dengan sesungguhnya berarti Nabi saw di siang hari kerjanya cuma berenang. Padahal di tengah-tengah kota Mekkah saat itu gak ada pantai, sungai ataupun kolam renang. Justru berenangnya Nabi saw di siang hari itu, maksudnya adalah dakwahnya. Apakah ada pekerjaan Nabi saw yang lebih besar selain berdakwah setelah ia dilantik menjadi rasul ?

Anda mengatakan : ‘Adapun sangkaan Bang Lubis bahwa orang-orang yang khuruj (keluar) di jalan Allah untuk mendakwahkan agama dan berniat memperbaiki diri, maka ini adalah sangkaan batil dan salah, sebab seorang yang mau memperbaiki diri, ia harus belajar dan duduk di depan para ulama dan ustadz agar ia mengetahui kebaikan dan keburukan sehingga ia dapat mengamalkan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Adapun jika kita malas belajar, tapi langsung sibuk dakwah, maka tentunya keliru dan sembrono. Bukankah seorang yang mau renang demi menyelamatkan orang lain, harus belajar renang dahulu sebelum terjun ke air ?’

Jawaban: Anda dan orang-orang Salafy, sangat enteng membuat stigma batil dan salah. Padahal kata-kata itu sesunguguhnya hanya milik dan hak Allah. Dan diri kita masing-masing tidak ada yang ma’shum dari perkara itu. Saya ada beberapa kali ke Pakistan, baru-baru ini juga kembali dari sana. Di markas dakwah Raiwind,  Lahore, Pakistan, setiap hari rata-rata  20 ribu orang shalat lima waktunya, mereka datang dan pergi dari berbagai daerah dan negeri, termasuk negeri-negeri arab. Kalau ada bayan (kuliah umum) dalam bahasa urdu yang disampaikan ulama atau penanggungjawab dakwah, diterjemahkan ke berbagai bahasa, arab, inggeris, parsi, cina, melayu dll. Saya lihat halaqoh terjemah arab paling ramai, saya selalu duduk dengan mereka. Saya seringkali bertanya pada mereka, di antaranya ada orang awam yang seperti anda sebutkan, ada  juga yang lulusan Ummul Quro Makkah, Jamiyatul Islamiyah Madinah, Al Azhar Kairo dan sebagainya, bahkan tak sedikit yang hafidz al Qur’an dan muhaddis.

Saya Tanya: ’Kenapa harus datang ke Raiwind (Pakistan), bukankah di Arab gudang ilmu dan kalian ini orang-orang ahli ilmu.’

Di antara mereka menjawab: ‘Betul di tempat kami belajar dasar-dasar ilmu, tapi di sini kami belajar mengamalkannya. Di sini , seperti zaman sahabat, ada al Qur’an berjalan’, kata seorang di antaranya.

Perhatikan ayat ini:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui. [2]

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
 (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah [3]  yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. [4]

Maksudnya: kerabat Nabi, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil yang kesemuanya fakir miskin, mereka itu adalah ‘akar rumput’ mewakili prosentase terbesar umat ini,  dan mereka berhijrah. Bukankah ini menggambarkan bahwa peserta hijrah bersama Nabi saw adalah mereka yang papa, miskin, fakir dan yang terusir. Siapakah di antara mereka yang ahli ilmu ? Sementara ayat al Qur’an sebagai sumber ilmu belum turun seluruhnya. Artinya, Allah Swt senantiasa memberi  kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperbaiki diri dari kesalahannya dan membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi siapa saja yang mau bertaubat. Lha kok terbalik, justru anda, Al-Ustadz Abul Fadhel Al-Bughisiy dan teman-teman Salafy lainnya, menganggap hal itu perkara yang batil dan salah, hanya dengan mengemukakan dalih seorang yang mau memperbaiki diri, harus belajar dan duduk di depan para ulama dan ustadz agar ia mengetahui kebaikan dan keburukan sehingga ia dapat mengamalkan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Di sini lah letak kepicikan, atau setidaknya keterbatasan  pandangan anda. Betul,  menuntut ilmu itu wajib di depan ulama, bahkan bertanya kepada ulama, menghormati ulama dan memuliakan ulama. Melihat wajah ulama saja menjadi ibadah. Semua itu diperintahkan. Tapi, dakwah ila Allah dan gerakan kebaikan itu, hari ini,  adalah juga hajat paling utama semua orang. Artinya jangan sampai kita dudukkan dakwah dan mengajak kebaikan, itu, seakan cuma menjadi monopoli ulama, miliknya para sarjana hadis, yang lulusan ummul Quro, Jamiatul Islamiyah, Al Azhar dan sebagainya. Seakan ilmu  itu menjadi menara gading. Simbol elitisme dan keterpicisan sekelumit sosok, yang konon well educated (terpelajar) saja. Dan kalau itu yang terjadi, bukankah menjurus keangkuhan intelektual yang dapat merusak asas bangunan Islam secara totalitas yang telah dibangun susah payah oleh Nabi saw  ?  Padahal mayoritas umat ini adalah orang miskin, awam dan jahil. Nah, siapa yang akan menggarap lahan mayoritas umat ini kalau semua kita cuma berpangku tangan menunggu ulama  ?  Kita sibuk mengeluarkan fatwa-fatwa, membahas kitab-kitab tebal, sementara umat ini jangankan mendengarkan fatwa, shalat saja sebagai ibadah mahdhoh paling besar sudah ditinggalkan. Umat ini sudah berbondong-bondong meninggalkan sholat, itu artinya berbondong-bondong menuju neraka jahannam. Apakah anda al Ustadz Abul Fadhel Al-Bughisiy yang mulia dan sahabat-sahabatku Salafy, sampai hati atau merasa tega dan membiarkan mereka begitu saja dan bahkan cukup puas Cuma menuduh mereka bid’ah dan sesat ? 

Memang betul, mereka seakan sedang di dalam lumpur berteriak minta tolong, sementara kita sibuk membuat pengumuman: Hati-hati ada jurang ! Sedang keadaan umat ini bukan hanya lemah, tapi buta dan tuli ! Apalagi akan sangat disayangkan kalau di antara kita masih ada yang merasa bahwa ilmu itu adalah status sosial, ilmu itu adalah ijazah, LC, S1,S2,S3 dan sebagainya. Siapa perancang LC,S1,S2,S3 ? Apakah ada sunnahnya menggunakan titel-titel itu. Kalau mau jujur, bukankah itu juga perkara bid’ah yang besar ? Apakah ada jaminan kesalehan bagi para penyandangnya. Bukankah realistisnya  gelar-gelar tersebut justru menimbulkan kelas-kelas tertentu di masyarakat ? Mohon maaf beribu maaf, saya mengutarakan ini, bukan berarti saya sinis terhadap ilmu dan gelar, karena saya sendiri memiliki ijazah-ijazah itu. Cuma menurut pandangan saya yang faqeer  ini, bukankah semua itu hanya alat untuk mencapai tujuan. Bukan harus menjadi kebanggaan atau kesombongan yang selalu ditampilkan di depan nama seseorang. Bukankah dalam amalan dakwah Nabi saw, siapa saja dari sahabatnya dapat menjadi sebab kebaikan dan sebab hidayah, sepanjang  ia mau bermujahadah. Maka di antara sahabat Nabi saw mengatakan :Kuunuu mitslanaa  (Jadilah kalian seperti kami),  maksudnya dari segi iman, kesalehan dan ketaatan, supaya setiap orang mau mencotoh mereka.

Ada satu kisah, tahun 2003 saya bergabung menjadi penerjemah teman-teman dari Saudi Arabia. Di antaranya DR.Su’ud dari Universitas Ummul Quro Mekkah dan DR.Ahmad Adnan dari Jamiatul Islamiah Madinah.Di masjid Hussein On Kuala Lumpur, kami ik’tikaf 3 hari, hari kedua ada pengajian rutin yang diisi oleh ustad setempat. Sebenarnya topik kajian malam itu adalah fikih, tapi tiba-tiba sang ustad muda yang baru lulus dari Ummul Quro itu, menyebut-nyebut:

-‘Ada golongan yang sudah memindahkan kiblat dari Mekkah ke India, mereka berdakwah tanpa ilmu, mereka datang ke masjid-masjid, mereka berdakwah membawa kesesatan. Kita harus hati-hati, dan jangan terlalu mudah mengikutinya.’  

Saya terjemahkan semua ucapan ustad tersebut ke bahasa arab,  kepada teman-teman dari Saudi. Mereka berkomentar, ‘Hadza lanaa (yang ini untuk kita)’. 

Selesai majelis, panitia mempersilahkan kami minum bersama. Maka posisi duduk pun diatur, sang Ustad berdampingan dengan DR.Su’ud. Mereka berkenalan, ternyata dari perkenalan itu diketahui DR.Su’ud adalah Muhaddis senior yang jauh di atasnya, semasa belajar di Ummul Quro. Sang ustad bertanya, :
-’Anta ma’at tablighi ? (anda sekarang bersama orang tabligh) ?’  
Dijawab: ‘Na’am ana ma’ahum  wa ma’aka aidhon’(ya, saya bersama mereka dan bersama anda juga)’.
Sang Ustad langsung diam dengan raut muka memerah, menunduk dan tidak bicara sepatahpun sampai beranjak dari tempat itu.

Tahun 2008, saya pernah bayan dalam bahasa arab di satu mesjid dekat Jami’atul Iman, Sonaa, ibukota Yaman. Selesai bayan, seorang anak muda mengajak saya bertemu dengan para dosennya.Kami duduk di dekat taman dan saya dikelilingi 3 orang, salah satunya  bertitel Doktor Syariah. Seorang di antaranya berkata:

- ‘Tadi dalam bayan anda mengatakan semuanya datang dari Allah, segalanya milik Allah, sedikit-sedikit Allah. Nah, saya punya anak dan isteri yang tinggal di balik bukit sana (sambil menunjuk ke arah bukit). Kalau saya tak mengirim belanja atau makanan, apa yang mereka makan, apakah ada yang langsung dari Allah ?

- Saya pun menjawab: ‘Pertanyaan anda merupakan siaran ulangan dari pertanyaan Nabi Zakaria  as:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Setiap kali Zakariyya datang ke mihrab, di situ dijumpainya makanan siap hidang, ia tanya :”Hai Maryam, dari mana makanan ini. Dijawab: Itu dari sisi Allah, Dia  yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.[5]

Ada dua pelajaran, pertama; Pantaskah seorang Nabi bertanya tentang rezeki, padahal Nabi adalah guru tauhid, yang pasti sudah tahu semua itu datangnya dari Allah Swt. Kedua, yang ditanya seorang wanita (bukan Nabi, karena tidak ada wanita yang Nabi) dalam keadaan terkucil dilanda fitnah besar. Ternyata iman wanita itu  mengagumkan, perhatikan, katanya:

‘Semua itu dari sisi Allah, Dia  yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab’.

Bayangkan, wanita lemah dengan keluguannya dapat memberi tarbiyah (pelajaran) iman kepada seorang Nabi, bukankah Nabi itu professor  iman ? Di sini Allah Swt memberi  tarbiyah, bahwa orang pintar, ahli ilmu , bahkan seorang Nabi pun masih tetap harus belajar, dan kadang gurunya adalah orang awam atau yang lebih bodoh darinya.

Maka, seorang dari yang bertanya kepada saya menyatakan: ‘Sodaqta  ya syeikh (anda benar bung)’.
Coba kita perhatikan lagi  ayat ini;
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, [6] yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami  [7]

Di sini jelas bahwa  kisah Khidir  yang orang biasa  dan  Musa as yang ulu al ‘Azmi tapi telah banyak bertanya dan itu sebagai bukti ketidaksabaran Musa as. Khidir  telah memberi   pelajaran sabar (sebagai wujud iman) kepada Musa as. Oleh sebab itu pula ayat tersebut menjelaskan “Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”, satu bukti bahwa ilmu tak selamanya dari guru atau ulama, Allah sendiri Maha Mampu memberikan ilmu langsung kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Karena ada dialog, perjumpaan kami pun berpisah dengan damai dan berangkulan, tanpa hujatan dan caci maki.
(bersambung).



[1] Al Qur’an surah Al Muzzammil  ayat  7.
[2] Al Qur’an surah al Baqarah ayat 273.
[3] Maksudnya: kerabat Nabi, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil yang kesemuanya orang fakir dan berhijrah.
[4] Al Qur’an surah al Hasyr ayat 8.
[5] Al Qur’an surah ali imron ayat 37.
[6] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian. Sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut. 65.
[7] Al Qur’an surah al Kahfi ayat 65.

source : HERE

Share on Google Plus

About Rizal IBNU MAKMUR

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

WHAT IS YOUR OPINION?