Pandangan Beberapa Ulama Sunni Tentang Jamaah Tabligh



Berikut ini beberapa pendapat para ulama besar tingkat internasional yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya, diantara mereka ada yang pernah ikut keluar bersama jama'ah tabligh atau melihat langsung amalan jama'ah..
Foto
do Dakwah 'till the last breath !!!

1.  Al - Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz ( 1332 – 1391 H) ( Ayahanda Al Habib Umar bin Hafidz, ulama Hadhramaut pertama yang menerima usaha dakwah)

Murid beliau, Al – ‘Allamah As-Sayyid Abdul Qadir Al –Junaid menceritakan tentang beliau :
Beliau melaksanakan  ibadah haji pada tahun 1368 H, ketika itu para ulama Haramain banyak yang berkumpul, beliau memanfaatkannya untuk meminta ijazah ilmiyah dari mereka. Setelah menunaikan kewajiban haji, beliau menuju Afrika Timur, Zanjabir dan Tanzania. Penduduk disana sangat antusias dengan kedatangan beliau.

Kemudian setelah itu , beberapa kali beliau menunaikan ibadah haji. Lantas memasuki India dan Pakistan dan ikut keluar di jalan Allah bersama Jama’ah Tabligh. Sebagian pemuka Jama’ah Tabligh senantiasa mengingat dan menyebut beliau hingga hari ini, hingga di India beliau terkenal sebagai tokoh ulama dari Hadramaut pertama kali menerima usaha dakwah yang penuh berkah ini.” ( http://safeena.org )

2. Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz (Pengasuh Ma’had Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman)

Penanya :
“Apa pendapat Anda tentang Jama’ah Dakwah dan Tabligh yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang sering mengadakan perjalanan ke berbagai Negara dalam rangka menyebarkan agama ?”.

JAWAB :
Jamaah Da’wah dan Tabligh sebagaimana gerakan dakwah yang tersebar di kalangan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Secara umum, mereka sangat baik dalam aktifitas dan keadaannya. Kebanyakan ushul (ajara pokok) jama’ah tersebut didasarkan atas dasar yang shahih lagi kuat yaitu menyampaikan tentang Allah ta’ala dan mengajak kepada amal kebaikan.

Meskipun ada perbedaan gerakan yang terjadi, itu hanyalah karena keikutsertaan orang – orang yang bukan termasuk di antara mereka atau orang yang tidak menjalankan dakwah sesuai dengan ushul dan dasar –dasar ajarannya, sehingga terjadi percampuran yang beraneka –rupa dan menyebabkan ketidakselarasan dalam fikih, pandangan, pemikiran dan akidah. Tapi Anda haruslah berprasangka baik terhadap mereka semua dan juga pandanglah kebaikan yang tampak jelas serta jangan Anda tafsiri dengan keburukan.

Demikian juga jauhilah segala hal yang dilarang dan keburukan yang nyata. Manusia yang tinggal dalam satu rumah saja berbeda watak dan pribadinya, apalagi dalam suatu jama’ah yang berjumlah besar. Umumnya, kebaikan pasti akan tersebar di kalangan umat nabi Muhammad saw dan setiap jama’ah  atau kelompok Islam tak lepas darinya. Semoga Allah menjadikan kami dan Anda sebagai Ahli kebaikan”.( http://www.alhabibomar.com )

3. Al Habib As – Sayyid Abu Al – Hasan ‘Ali An-Nadwi Al Hasani.

“Ini adalah sebuah pernyataan yang tidak berlebihan, seandainya dikatakan bahwa dewasa ini, di belantara dunia Islam bahwa usaha yang paling luas, paling kuat, paling bermanfaat dan mengatasi semua usaha, adalah usaha dakwah da Tabligh yang berpusat di Nizhamuddin , Delhi India.

Di mana pergerakan dan pengaruh usaha ini tidak terbatas di wilayah kecil saja atau Asia saja, akan tetapi telah menjagkau ke semua benua dan di seluruh Negara – Negara Islam ataupun Negara – Negara non – Islam.

sejara dakwah, pergerakan, dan perubahan dan maslahat yang cepat telah menunjukkan bahwa ketika usaha dakwah telah berjalan dengan cepat dan bertambah luas (terutama ketika telah muncul keuntungan dari kepemimpinan yang disebabkan oleh usaha dakwah ini), maka terlihatlah berbagai kelemahan dan tujuan – tujuan yang menyimpang termasuk mengabaikan tujuan yang utama, sehingga mengurangi manfaat usaha ini atau mnghapus pengaruhnya sama sekali.

Namun demikian, usaha tabligh sampai sejauh ini (sepanjang pengetahuan dan yang disaksikan langsung oleh penulis, yaitu sayyid Abul hasan-, pen.) masih terpelihara dari cobaan – cobaan tersebut. Hal ini disebabkan karena dalam usaha ini terdapat semangat Itsar (lebih mendahulukan orang lain daripada diri sendiri.) semangat berkorban, semangat menghormati dan memuliakan islam dan orang – orang Isalam, bertawadhu, dan merendahkan diri, semangat memenuhi kewajiban – kewajiban agama ddengan semangat lebih meningkatkan lagi, kesibukan berdzikri kepada Allah, menahan diri dari kesia-siaan dan yang tidak berfaedah, serta melakukan perjalanan – perjalanan yang lama dan jauh seraya bersabar atas berbagai kesulitan semata- mata karena Allah, itu semua sudah menjadi amalan mereka yang biasa.”
(Muqaddimah Kitab Muntakhab Ahadits)

4. Al habib ‘Ali Al- Jufri
Suatu ketika dalam majelis ta’limnya habib ‘Ali Al- Jufri ditanya, “Bolehkah keluar di jalan Allah Ta’ala?”

Maka beliau menjawab dengan terheran – heran,
Anda bertanya, apakah boleh keluar di jalan Allah Ta’ala ???, Keluarlah ! semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Anda ! betapa umat hari ini sangat membutuhkan orang-orang yang bersedia keluar di jalan Allah dalam rangka dakwah ilallah. Keluarlah dan ajaklah kami ikut bersama anda, ajaklah kami di majelis ini, semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Anda!

Apakah tidak mengherankan seseorang ditanya bolehkah keluar intuk khidmat agama dan dakwah ilallah ?

Subhanallah! Mereka, umat di luar sana –semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka- tidak shalat dan puasa  apalagi berdakwah…. Mereka berkata, “Apa yang mereka (para da’i) inginkan ?  mengerjakan petuah – petuah yang kita dengar, “Janganlah tertipu dunia, jangan sampai hati kalian lalai…???” atau ucapan  mereka, “jangan kalian berdakwah! Jangan kalian berfatwa! (semoga Allah member hidayah bagi mereka)

Memang yang paling berani beratwa, paling berani masuk neraka, fatwa itu khusus bagi ulama, seseorang tidak boleh berfatwa kecuali jika memiliki keahlian atau mengutip dari para ulama yang memiliki keahlian, sedangkan dakwah adalah menjadi tugas setiap orang yang beriman. Allah Ta’al berfirman, : Katakanlah ; “inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

Allah berfirman, “Aku dan orang-orang yang mengikutiku bukan aku dan para ulama, ahli ceramah, para pedagang…. Maka sesuai kadar hakikat ittiba’ (mengikuti) Nabi saw. Dan pemahaman terhadap metode dakwah dan perkara yang seyogyanya dijalankan, maka wajib bagi Anda untuk menjalankan dakwah karena itulah hakikat jalan Musthafa saw., sekarang ini amal tersebut sudah merupakan hal yang fardhu bukan lagi sunnah, karena sebagian umat tidak tahu apa yang wajib mereka ketahui dalam agama. Saya katakana pada kalian, “Ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang yang seperti itu!....bukanlah berlebihan jika saya katakana bahwa jutaaan umat islam tidak baca atihah dengan benar, orang yang telah keluar untuk berdakwah tentunya bisa memahami ucapan ini…., Kami temukan sebuah kampong yang seluruh penduduknya tidak bisa baca fatihah dengan benar kecuali hanya 3 oang saja! Ingatlah wajib bagi orang yang tahu bacaan fatihah dan dia mampu untuk berangkat dan mengajari mereka, ingatlah wajib baginya keluar dari rumahnya dan mengajarkannya. Kita memohon ampunan dan ‘afiyah dari Allah ta’ala atas tindakan kita menghalangi dari jalan Allah ta’ala.”
(  http://www.alhabibali.org/library/libray2.asp )

Sumber :
Kitab “Jamaah Tabligh Sesat ? Para Kyai & Santri Menjawab”
Halaman
156 - 162
Disusun oleh Team tabayyun Payaman.
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Upaya Ilmu Iman
Ponpes. Sirajul Mukhlasin Payaman,
Payaman PO BOX 158 Magelang 56101 Magelang, Jawa Tengah
           
Share on Google Plus

About Rizal IBNU MAKMUR

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

WHAT IS YOUR OPINION?